Begitupun bisnis hotel tidak
membayarkan uang jasa pelayanan kepada karyawan. Kebanyakan bisnis lumpuh namun
beberapa masih tegak berdiri ditopang anak perusahaan.
Saat terseok-seok, kami harus
mengirit sisa tabungan yang tidak seberapa. Benda bergerakpun terjual satu demi
satu dan satu bangunan rumah dijual murah guna menutupi beberapa karyawan
sebagai pesangon.
Terbeban dengan nasib karyawan
yang tidak banyak itu akhirnya kami mendahulukan pemberian pesangon agar mereka
tidak terlantar. Begitu pula kondisi kami sekeluarga.
Lima bulan setelah itu, seorang
teman dari suami mengajak berbisnis. Mereka bertiga adalah teman lama yang
terpisah negara. Seorang berada di Indonesia, Singapore dan seorang lagi warga
NewZealand. Dua orang diantaranya beristri orang Indonesia.
Saya tidak akan berkisah tentang
bisnis mereka secara terperinci, namun hanya membuat catatan dari sudut pandang
profesional bagaimana mereka mampu bekerja bersama menghasilkan gol demi gol.
Tidak perlu ditanyakan mengenai
kemistri. Mereka teman lama bertahun-tahun. Ibarat kata kami telah paham the dark side masing-masing. Baik
pertemanan maupun hubungan masing-masing keluarganya.
Bisnis mereka sebagai supplier minyak
dan gas di beberapa negara, termasuk Indonesia. Semula hanya perbincangan kecil
diantara teman akhirnya menjadi suatu perusahaan legal yang diakui
keberadaannya.
Dari modal tabungan yang tersisa
hingga cukup mapan hingga kini. Seorang temannya bahkan menjual rumah di
Australia untuk bisnis ini. Masing-masing stakeholder
menjunjung kesabaran, ketekunan dan kejujuran.
Tidaklah mudah membangun usaha
bersama teman. Melalui pengamatan saya dari jauh serta sebagai pemerhati secara
diam-diam atas kiprah sang suami, 5 kiat berikut menjadi tolok ukur kebersamaan
mereka:
(1) Memiliki misi dan visi yang sama
Bagi mereka, membangun bisnis
bukan sekedar iseng, kalau mujur syukur, kalau rugi ya tidak mengapa. Bukan!.
Mereka berprinsip kuat menegakkan gol sebagai prioritas.
Bahkan ia menempelkan tulisan
misi dan visi di kamar kerjanya. Papan tulis penuh kalimat penyemangat, post it dimana-mana, padahal kata-katanya
kadang menggelikan bagi yang membaca.
Done! Cuti? Let her cry for a while. Takpernah mengusik
pekerjaannya, saya hanya tertawa geli. Toh hanya dia yang paham betul
gaweannya.
(2) Jujur dan saling percaya
Mereka saling menumbuhkan
kejujuran dan percaya satu sama lain, tanpa syarat. Kejujuran yang menjadi
penopang bangkitnya mereka dari nol.
Begitupun para istri dan
anak-anak menjadi tumpuan kepercayaan mereka. Istri dan keluarga berperan besar
terhadap lajunya perusahaan ini.
(3) Mengatur finansial secara transparan
Semua tanda tangan mereka adalah
penting. Tiada yang dapat mengeluarkan biaya tanpa ketiga tanda tangan. Seluruh
faktur diketahui bersama.
Satu hari ia harus kembali ke
Malaysia karena urusan bisnis mendadak. Suami meminta agar saya membayarkan
tiket pesawat dari China ke Malaysia.
Sesekali ia meminta saya membayarkan
tiket pesawat. Saya tahu pasti ia akan mengembalikan dengan menyertakan bukti
pembayaran.
(4) Disiplin terhadap waktu dan tenaga
Segala sesuatunya jelas mengenai
tujuan bersama dalam perusahaan. Mereka berusaha seefektif mungkin bekerja.
Kerap kali masing-masing berada di 3 negara untuk beberapa hari.
Kemudian kembali ke kantor base Singapore
untuk memudahkan setiap pekerja bergerak cepat ke berbagai tempat bisnis.
(5) Menjaga hubungan harmonis antar keluarga
Demikian tim kecil untuk urusan
bisnis saja tidak cukup membangun kebersamaan. Apabila saatnya berkumpul,
mereka mengundang para istri dan anak-anak, makan bersama, barbeku atau hanya
ngobrol saja.
Bentuk suguhannya tidaklah penting
namun saling bertatap muka sesama keluarga menumbuhkan kecintaan tersendiri. Cara
ini sebagai bentuk saling mengenal sebagai keluarga besar.
Tentu saja dunia kerja tak lepas
dari kesukaran. Terkadang tampak wajah tertekuk, tegang, namun akan bangkit kembali
kala mereka saling menopang dan menyemangati.
Demikianlah tulisan sederhana ini
berdasar pengalaman suami berbisnis dengan kedua temannya.
Comments